PETE-PETE - “Jangan Buang Aku. Kita Sahabat Sejak Lama Kawan”
“Kalau kosong lima itu dari Cendrawasih ke Kampus, Pulang balik”
“Kalau Kosong Tujuh, mmm dari sekitaran MP sana, dia beloknya dari Tello situ. Tapi tetep lewat sini juga ke Kampus”
“Kosong dua. Lupa, Sekitaran Veteran kayaknya. Tapi lewat sini juga”
“Kosong Delapan itu putar balik kampus. Jangan naik itu karena tidak bakalan sampai di kostanmu”
Cerita awal saat pertama kali menginjakkan kakiku di Makassar sebagai Mahasiswa Baru UNHAS. Anak kecil 16 Tahun dari Provinsi Gorontalo. Ujung pukul Ujung. Terlalu dini untuk Hidup sendiri, tapi memaksakan diri ingin sekedar pembuktian Diri. Kali ini ceritanya bukan tentang hidupku. Bukan juga Curhatan Batin akan sakitnya tidak bisa bersama Keluarga dalam Waktu yang Lama. Ataupun cerpen penghias malam peneman tidur. Ini tentang “Pete-Pete”.
Iya “Pete-Pete”. Pete-Pete dan Supirnya. Angkutan Umum berwarna Biru berhiasan Merah bertuliskan tujuan dengan simbolisasi Angka-angka. 02. 05. 07. 08. Orang Makassar mengenalnya sebagai Pete-pete Kampus. Bukan mobil milik kampus, Bukan juga dibeli oleh Kampus, Bahkan mungkin juga bukan Milik para Pembesar-Pembesar Kampus. Tapi entah Mengapa dengan Setianya, Dari Hampir Pagi Sampai Tengah Malam berputar-putar, mengantar dan menjemput, Adik-Adik, Kakak-Kakak, Tante-tante, Ibu-ibu, Bapak-Bapak, Semua mereka yang ingin sekali dikenal sebagai Mahasiswa dan Aktivis Kampus.
Kata-kata diatas adalah petunjuk. Advice dari tanteku yang pernah kuliah di UNHAS. Awalnya aku sempat menolak, dan meminta dibelikan kenderaan pribadi. Tapi mereka melarangnya. “Terlalu Ramai”… “Bahaya”. Dan akhirnya Aku menerima. Saat itulah, “Persahabatan” ku dengan Pete-Pete ini pun Dimulai.
10-10-2012.
Berita Buruk itu datang. Pete-Pete Dilarang masuk Kampus. Usulan entah dari siapa, yang disetujui oleh entah siapa saja. Tapi itu sudah ditandatangani.
Miris………”
Bagaikan kisah seorang sahabat lama yang dihempas dan tak ingin lagi di akui demi nama “Popularitas”. Berlebihankah..? Pete-Pete yang sudah setia menemani, Menghiasi, Membantu, Semua elemen-elemen UNHAS sejak Berpuluh tahun yang Lalu ingin dibersihkan dari lingkungan Kampus demi Nama “WORLD CLASS UNIVERSITY “. Berbedakah.?
Banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung penghapusan Ini. Sempat teringat saat curhatan teman-temanku yang masih berngiang-ngiang ditelingaku.
“Lamanya ini Pete-pete Cari penumpang, mauma terlambat ini”
“Hampirka Ditabrak Pete-Pete”.
“Patahki kakinya Temanku ditabrak motornya sama Pete-Pete”
“Maafkanka, terlambatka tadi. Bikin macetki Pete-Pete di FlyOver”
“Terlambatka Nonton Twilight gara-gara kempeski ban Pete-peteku.”
Absurd. Pete-pete selalu jadi Kambing Hitam. Sempat ingin Marah pada tukang pete-pete. Tapi Sahabat tetaplah Sahabat. Pete-pete is everything lah.
Mengacu dari curhatan diatas, mungkin benar adanya. Kemacetan, Kenyamanan, Keselamatan menjadi Hal utama yang dipikirkan oleh UNHAS untuk menghapus keberadaan sahabat lamanya ini. Tanpa Adanya pete-pete di jalanan kampus UNHAS, Para Mahasiswa akan mudah untuk berjalan kaki tanpa takut ditabrak pete-pete. Mahasiswa Akan Nyaman tidak macet saat menuju kampus untuk kuliah. Mercedes, BMW, Jazz, Mazda, Camry akan Berlenggang Mulus dan Aman tanpa adanya Carry ataupun Futura di Jalanan Kampus. Sekali lagi. Miris.
Mengantisipasi Banyaknya protes nantinya, UNHAS mulai mengadakan transportasi alternatif bernama “Sepeda Kampus”. Sepeda ini nantinya diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam perkuliahannya. Bangga…..? Tidak sama Sekali. Tujuan tidak pernah mencapai sasarannya. Sepeda kampus yang seharusnya menjadi sarana transportasi ke Kelas-kelas malah Digunakan oleh Mahasiswa sebagai Alat bantu “PENYEGARAN BADAN” atau bahasa Ilmiahnya “OLAHRAGA”.
Hanya itu kah Masalahnya.? Tidak… 75 PERSEN sepeda Kampus dalam keadaan Tidak Layak pakai. Membahayakan Penggunanya. WORLD CLASS…? Never. “You say WORLD CLASS with A Ruined Bycicle.? Bullshit..”
Sekarang Kita kembali ke tujuan WORLD CLASS UNIVERSITY. Mungkin bagi mereka penguasa, World Class disini berarti sama dengan kampus-kampus di Luar negeri kaya’ di Eropa ataupun Di Amerika. Kampus yang isinya Mahasiswa pejalan Kaki dan pesepeda.? Dan mereka ingin Kampus UNHAS seperti itu? Baiklah. Jika anggap saja Alasannya seperti itu. Hal ini jelas-jelas SALAH besar. Mengapa.?
Perkiraan Suhu rata-rata negara-negara Eropa dan Amerika pada saat Spring dan Autumn adalah 10° - 25° Celcius. Cukup dingin bagi manusia, karena hal inilah Para mahasiswa disana cenderung memilih berjalan Kaki atau bersepeda untuk menghangatkan tubuh sebelum sampai diruang Kuliah. Jelas dengan suhu seperti itu, Kenyamanan bisa kita dapatkan saat berjalan kaki ataupun bersepeda. Sekarang Kita bandingkan dengan Indonesia terutama Makassar.
Perkiraan Suhu Rata-rata Kota Makassar pada Saat Musim Kemarau Ataupun Musim Hujan adalah 29°- 35° Di waktu kerja (08:00-15:00). Suhu seperti itu hanya akan terjadi di saat Summer di Negara-negara Amerika dan Eropa, dan Pada saat itulah “PERKULIAHAN DILIBURKAN”. Di jalanan Kota dipenuhi oleh orang Berpakaian Minimalis dan sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu di Pantai. Manusia yang berpakaian standard kuliah Indonesia (Kaus dan Jeans) dan Berjalan kaki ataupun Bersepeda dengan keadaan Suhu seperti Itu, Dalam 10 menit saja bisa dipastikan Berkeringat. Dan orang berkeringat tidak akan pernah nyaman dalam menjalani perkuliahan di dalam kelas. Jadi apa Kesimpulannya..?
Kesimpulannya Jika pemikiran “WORLD CLASS” kita ini mengacu pada Kampus yang Hanya berisikan Pejalan Kaki dan Pesepeda lalu Menghapus keberadaan Pete-Pete, Kita sudah Sepenuhnya SALAH. Akan sangat sulit bagi Kampus-Kampus di Indonesia untuk mengaplikasikan peraturan Jalan Kaki ini. Tidak Cocok, Kecuali ya Mahasiswa Di ijinkan pake Singlet sama Rok Pendek ke kampus.
Jadi masih adakah Harapan Kita menjadi “WORLD CLASS” ?.
Pasti Ada. Usulan-Usulan seperti Setiap Professor wajib menyumbangkan Minimal satu Jurnal Ilmiah setiap Bulan di Jurnal International, Standard Kurikulum Mata Kuliah Mahasiswa ditingkatkan, Meningkatkan pengawasan terhadap Kecurangan pada saat ujian Masuk UNHAS. Mengirim Wakil-wakil di setiap lomba pekan Ilmiah mahasiswa. Dan Masih banyak Lagi tentu saja masih bisa membuat kita menjadi Kampus World Class. Dan tentunya di mata dunia kita dipandangnya bukan sebagai “Kampus World Class yang karena Mahasiswanya Jalan Kaki dan Bersepeda”. J
Terakhir… Kita kembali ke sahabat kita.
Pete-pete adalah Ciri Kampus Unhas. Dia sudah menjadi Atribut Kampus. Pete-Pete juga menjadi salah satu Alternatif Lapangan Kerja Bagi Masyarakat yang Kurang Mampu. Para supir pete-pete jelas juga membutuhkan uang untuk Hidup. Sebagai Manusia, Janganlah kita membawa nama Kenyamanan, Ketertiban, dan Ketenangan tapi melupakan Kodrat Kita sebagai manusia dengan melupakan hal yang paling penting, “Kemanusiaan”.
Universitas Hasanuddin
Panjimu kita bawa serta
Pancangkan di medan bakti, namamu kita bawa bersama
Membina kejayaan nusa
Indonesia Bahagia, putra-putrimu kini bangkit dengan jiwa Hasanuddin.
Jiwa Hasanuddin. Jiwa Pejuang. Pejuang yang rela Mati untuk Kemerdekaan dan Kehidupan Rakyatnya. Masihkah Kita berjiwa layaknya dia dan Mendukung dihapusnya Pete-pete dari Lingkungan Kampus Unhas.? Bijaklah. J
Penulis tidak bermaksud memprovokator ataupun memancing hal-hal buruk nanti, Sekedar curahan Hati akan takutnya kehilangan seorang Teman. Teman bernama “Pete-Pete”. J
Jika di suatu saat Nanti pete-pete kan Tiada dari Kampus UNHAS. Kita tetap kan terus mengingat sahabat Kita ini. Sahabat setia yang lebih Pantas berada di list terima Kasih Skripsi kita dibandingkan Pacar yang bisa saja Memutuskan kita nanti. Dan yang paling penting. Kita masih bisa mengingat senyuman para supir pete-pete saat kita membayar mereka. Senyuman terima Kasih, Senyuman Kebanggaan, Senyuman Khas penuh Cinta. Senyuman yang kan selalu menghiasi kita, Hingga Saat kita berhasil meraih ST, S.Si, SP, dr. Prof. DR. SS, dan apapun itu. Hingga saat kita meninggalkan mereka nanti, mengingat mereka berpeluh basah penuh keringat, membawa Anak Bangsa menuju Masa Depan Indonesia, Layaknya Hasanuddin yang membawa Makassar menuju Kemerdekaannya. J
Created By : Reza Pratama.